Coretan pena

Tampilkan postingan dengan label Catatan Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

Saat si kecil bicara politik



                                                                                            Oleh : Lisa Tjut Ali






Ponakan ku...... jika engkau belum mampu memimpin hatimu
 janganlah jadi pemimpin jutaan hati masyarakat



Suatu sore saat lagi duduk santai dengan kakak sulung dan ponakan, tiba-tiba si kecil celoteh tentang caleg dan partai yang dilihatnya di spanduk-spanduk.

" Mimi, bunda, kalau mau gaji guru naik pilih partai dan caleg ini aja (*Sebut nama partai dan caleg)“ ujar si kecil yang berusia 8 tahun.

" Kalau nek ayah pilih partai ini (*Sebut nama partai dan caleg lagi), karena partai ini kasih bibit, cangkul, pupuk, kan nek ayah suka ke gunung “ celoteh si kecil berusia 10 tahun.
Saya dan kakak saling memandang dan tersenyum nyengir lihat ponakan yang ngomong politik.

" Memangnya kakak Ulfa dan ulya tahu darimana tentang caleg dan partai itu “ tanya saya penasaran.

" Kemarin itu baca di spanduk-spanduk yang di tempel di pohon, jalan, dan WC trus diumumkan melalui mobil-mobil yang lewat " ujar mereka polos.

Hmmmm si kecil saja sudah bisa memilih partai dan caleg mana yang membawa inspirasi mereka, saya juga yakin masyarakat sekarang juga sudah bisa menilai partai dan caleg mana yang sesuai memikul inspirasi masyarakat.

Itu caleg dan partai berdasarkan pandangan si kecil.
Lalu bagaimana pandangan teman-teman ?

Hmmmm saya jadi ingat masa sekolah dulu, ketika cekgu tanya siapa yang mau jadi ketua kelas, semua tertunduk, tak ada seorang pun yang mau menunjukkan tangan mengatakan dirinya mampu memimpin kelas, padahal saat itu ada beberapa teman memang layak untuk memimpin kelas, namun mereka hanya mau menjadi pemimpin berdasarkan penilaian teman-teman bukan karena ambisi, walaupun mampu, teman-teman begitu malu menonjolkan diri bahwa mereka mampu, biasanya setelah cekgu dan teman-teman yang lain tunjuk, baru mereka mau menjadi ketua kelas, tapi realita sekarang justru terbalik, banyak sekali orang tanpa malu-malu mempromosikan diri untuk jadi pemimpin, walaupun banyak yang tak layak memimpin, pohon-pohon, jalan-jalan serta fasilitas umum pun dijadikan tempat promosi mereka.

Jadi kalau saya disuruh memilih saya tidak akan memilih calon pemimpin yang sangat menginginkan jabatannya, sementara kemampuannya untuk memimpin tidak ada. Intinya bagi orang yang layak memimpin namun tidak berambisi untuk kedudukan, ia akan merasa bahwa jabatan itu sebuah amanah dan tanggung jawab yang besar untuk dipikul, ia akan selalu merasa tidak layak dan tidak mampu berbuat adil pada masyarakat, ia akan merasa tidak layak untuk jabatan, kecuali memang masyarakat mempercayai dan memilihnya.

         Sekarang coba lihat hampir semua orang merasa diri mampu menjadi pemimpin, semua seakan ingin jadi pemimpin dan terdepan. Sebelum ingin menjadi pemimpin tanyakan diri kita, apakah kita layak untuk menjadi pemimpin jutaan orang? apakah kita sudah mampu memimpin hati kita? apakah kita sudah mampu memimpin keluarga kita? kalau hati kita sendiri belum mampu kita pimpin lalu siapa kita, sehingga tanpa malu berkoar-koar untuk dipilih menjadi pemimpin jutaan hati masyarakat.

Rasululloh SAW juga menyatakan agar tidak memilih seseorang menjadi pemimpin kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya.

“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasululloh SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’,” (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733]).

“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, ia berkata, “Rasululloh SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun apabila jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya’,” (HR Bukhari [7147] dan Muslim [16522]).


 “Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)







 (* Catatan dan renungan untuk diri sendiri agar tidak salah dalam memilih. 
  Di antara banyak calon pemimpin, pilih lah pemimpin yang layak untuk memimpin 










Jumat, 12 Juli 2013

Ungkapan cinta seorang anak



Ketika jauh dari mu, rindu ini semakin menyesakkan dada. Setelah lama bertata di hati, menuangkannya dalam lembaran kertas, menulis rapi di laptop, upload di kompasiana, facebook, blog, lalu meremovenya kembali, berharap dapat memendam rindu hingga tiba masa perjumpaan. Ternyata rindu itu tetap saja ada, rindu seorang anak pada orang tuanya, setelah sekian lama jarak dan waktu memisahkan. Hari ini, di Ramadhan tahun ini, ungkapan cinta ini tetap sama seperti tahun-tahun yang lalu, saat saya masih merenggek untuk sebuah boneka dan sekarang  sudah dapat berlari mengapai cita,  rindu itu tak pernah berubah, rindu itu tak pernah usang di makan waktu, terima kasih ayah, terima kasih ibu, inilah ungkapan cinta yang pernah saya tulis dahulu dan tetap ada hingga sekarang, esok, nanti dan tahun-tahun yang akan datang. Biarkan dunia tahu bahwa sejak dalam kandungan hingga sekarang, sosok mu selalu ada untuk saya, doa mu mengiringi setiap perjalanan.

Walau kini sudah menjelang Ramadhan ke 31 dalam hidup saya, namun bagi mu saya tetap si kecil yang manis, si kecil yang tak bisa tidur tanpa ada cahaya, si kecil yang masih susah bila di bangunkan sahur, si kecil yang masih berselera jika disajikan kuah plik u dan ikan asin, si kecil yang lupa makan bila menulis, si kecil yang suka lupa waktu bila bermain. Dari kakak saya dapat tahu, yang memedam rindu itu bukan saja saya. Ketika saya melepaskan rindu dengan membaca puisi lama, ternyata ayah-ibu disana juga melepaskan rindu dengan membuka album lama keluarga, berisi potret manja masa kecil anak mu, yang tetap terjaga utuh walau pernah tenggelam dalam amukan tsunami. Kasih sayang mu ibu, cinta kasih mu ayah, membuat mu lupa, bahwa anakmu yang kecil kini sudah menyambut Ramadhan ke 31. Namun tahu kah ibu, Ramadhan  yang terindah adalah saat Ramadhan pertama disisi mu, saat anak mu baru belajar berpuasa pertama dalam hidupnya. Dan tahu kah ayah, bahwa Ramadhan yang tak terlupakan adalah saat anak mu baru belajar puasa pertama, mendapat hidangan buka puasa spesial dari mu. Terima kasih telah mengajarkan anakmu berpuasa pertama saat itu, terima kasih telah membangunkan sahur saat itu. Allhamdulillah, saya punya orang tua dan keluarga yang terbaik. 


                                                                           *  Duisburg-Jerman, 12 Juli 2013 
                                                                               Ketika Ananda harus Ramadhan tanpa mu



Ungkapan cinta seorang anak



Ibu......
Dapat kulihat jelas keletihan dan kelelahan di wajahmu yang tak lagi muda                                  kerutan-kerutan  keriput tua tampak disana
namun kau tetap tegar dalam menuntun kami anak mu
kuingat seraut wajah tulus dan jemari telaten mu
saat menimangku dengan penuh senyum keibuan
                     
Ayah.......
Begitu banyak tenaga dan  cucuran peluh keringat mu yang tercurah
dalam mengharungi kehidupan
untuk mencari sesuap nasi untuk aku anak mu
dan masih terukir jelas dalam ingatan ku
seraut wajah tegas mu saat mendidik ku

Ibu.......Ayah........
setiap jerih payah dan keletihan mu
setiap doa dan nasehat yang termunajad dari bibir mu
mengandung makna dan harapan
engkau ingin melihat anak mu mengapai impian dan cita

Ibu.......Ayah.........
kini anak mu yang dulu masih balita  telah tumbuh menjadi dewasa
anak mu yang dulu merangkah tertatih untuk belajar jalan
kini telah dapat berlari mengapai cita
anak mu yang dulu merengek untuk sebuah boneka dan baju baru
kini telah dapat meraih melati putih dan menyemat pita emas pendidikan

Ibu.........Ayah.........
tiada arti bagi ku baju toga dan pita hijau
jika tanpa doa dan nasehat mu
tanpa restu mu aku seperti ilalang yang layu
tanpa kasih mu aku seperti sampah ditiup angin yang tiada arah dan tujuan

Ibu........Ayah.......
engkau seperti pelita
yang menerangi jalan ku  saat teraba-raba dalam kegelapan
engkau selalu tersenyum bangga melihat ku
meski waktu telah merampas usia muda mu
yang telah terlewati dengan membesarkan kami anak-anak mu
kini yang tersisa dari mu hanya seraut wajah keriput, rambut yang memutih dan
kaki yang melangkah pelan
tapi aku bangga sebagai anak mu
senyum mu tetap menjadi semangat untuk ku hingga akhir nanti.


                                                                       *  (Peluk rindu dari Ananda Lisa Tjut Ali)
                                                                            Kuala Lumpur, 13 November 2009
                                                                            Ketika ananda harus merantau
   



Kamis, 20 Juni 2013

SIM penghias dompet



Begitu baca tema GA mbak Hana tentang SIM, saya langsung tersenyum nyengir teringat suami yang sudah punya SIM  tapi belum punya mobil. Alhasil itu SIM hanya jadi penebal dompet. Padahal kalau kita lihat realita sekarang justru sebaliknya banyak orang yang punya mobil, malah mengemudi tanpa SIM. Kalau di pikir kasihan juga itu SIM sudah mau expired tidak pernah digunakan, gimana mau digunakan mobil aja nggak ada, yang lebih parahnya lagi mengemudi aja kagak bisa. Maklum kami selama dirantau selalu kemana-mana naik motor, biar bisa mesra dan nggak macet dijalan, lagian kalau naik motor bisa meluk mesra saat boncengan dan yang enaknya bisa menyelinap disela-sela mobil kalau macet ( hehehhehe, alasan ya, padahal kagak ada modal beli mobil, iya sich udah lama juga pingin punya mobil, buktinya udah ada SIM, mobilnya belakangan, maklum modal baru cukup untuk SIM doang). Semua pasti pingin punya mobil, selain bisa jalan-jalan dengan aman tanpa kena hujan dan panas, juga bisa tiduran kalau perjalanan jauh, hmmmm jadi ketahuan kebiasaan saya  yang suka tidur kalau menempuh perjalanan jauh. 

Waktu itu tepatnya saat balik ke Aceh, suami berencana mau beli mobil, alasan suami pingin beli mobil karena kami sering mudik dari Banda Aceh ke Lhokseumawe dengan motor, Nah suami khawatir lihat saya yang suka ketiduran di belakang motor, gimana nggak tiduran udah perjalanan jauh melewati pergunungan, anginnya itu juga suka merayu mata saya agar tetap terpejam (untuk kebiasaan saya  yang satu ini jangan ditiru ya, berbahaya). Saat itu saya kasih usul sama suami sebaiknya sebelum beli mobil, belajar dulu mobil sekalian buat SIM, suami nurut saja saran saya,  dengan pertimbangan kalau duluan beli mobil tanpa bisa mengemudi dan tidak ada SIM, itu mobil bakalan jadi hiasan bagasi. 

Mulai saat itu setiap selesai shalat subuh suami saya rutin belajar mengemudi  dengan kakak dan abang ipar saya. Allhamdulillah dengan kegigihannya,  suami sudah bisa mengemudi, walau hari pertama belajar tiang listrik dan mobil kakak jadi korban. Setelah suami belajar mengemudi, kami pun membuat SIM. Ternyata buat SIM sangat mudah dan cepat jika semua persyaratan terpenuhi, hanya dalam masa sehari SIM langsung siap. Semua rencana berjalan mulus, tinggal beli mobil yang di nanti. 

Saat kami sudah persiapkan semua modal untuk  beli mobil,  tiba-tiba  ada tawaran untuk melanjutkan studi. Setelah diskusi panjang lebar dengan suami, akhirnya keputusan untuk melanjutkan studi jadi pilihan saat itu, modal untuk beli mobil pun beralih untuk biaya kuliah, sisanya kami beli motor yang murah sebagai transportasi selama studi di Malaysia.


           Akhirnya kami tetap naik motor selama di Malaysia dan SIM suami masih menjadi hiasan dompet, namun sejak merantau ke Jerman malah  dua SIM yang menjadi hiasan dompet. Hidup memang selalu dihadapkan pada pilihan, setiap pilihan menentukan masa depan. Pilihan yang bijak dan arif sangat diperlukan agar tiada kata menyesal diakhir. Saat itu kami sudah berusaha membuat pilihan yang bijak, mudah-mudah pilihan kami merupakan pilihan yang tepat, Insyaallah. Kami memilih untuk kuliah, biarlah SIM jadi hiasan dompet, semoga suatu saat nanti impian punya mobil tercapai. Amin.








Kamis, 25 April 2013

Nasib Nomaden



Oleh : Lisa Tjut Ali


Jadi teringat saat mudik lebaran, selain menyenangkan juga ada repotnya, terutama saat harus bereskan barang-barang yang akan di bawa, dari kemas baju dalam koper sampai pusingnya mencari oleh-oleh yang bagus tapi jimat kos. Belum lagi di tambah dengan penatnya saat beres-beres rumah yang akan di tinggal mudik untuk beberapa hari atau boleh jadi sampai beberapa minggu. Puyeng nya kepala mikir keuangan juga masuk dalam list mudik. Itu baru repot mau mudik, belum lagi repot sehabis balik dari mudik. Daftar tugas yang dilakukan pun seperti merekam kembali kegiatan yang sama waktu mau mudik, mulai merapikan kembali baju-baju dari koper ke lemari, baju-baju yang kotor di cuci,  sekaligus membersihkan perabot-perabot yang berdebu selama di tinggal mudik.

Wah ini baru cerita repot bila mudik, trus gimana kalau repot saat harus nomaden,  alias pindah-pindah rumah selama di perantauan, seperti saya dan suami yang dalam dua tahun bahkan setahun sekali nomaden ke negara lain. Bukan lagi rambut yang keriting alhasil pikiran pun ikut keriting. Dari repotnya membersihkan rumah sewa yang akan di tinggal,  sampai membersihkan rumah baru yang akan di tempati, itu belum lagi mengemas barang yang akan ikut di nomaden kan. Repotnya mencari rumah baru serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru juga masuk dalam daftar menu ( kayak restoran aja pakai daftar menu segala, wkkkkkkkk). Memburu tempat belanja yang terdekat dan murah juga ikut menguras tenaga. Inilah daftar nomaden saya selama beberapa tahun merantau ke negara jiran kuala lumpur dan Jerman.

 Saat di Kuala Lumpur :

1.      Apartement  di hentian 4
Di apartemen ini kami menyewa lantai 5 pemiliknya Lee kok siong, walau pemilik nya orang cina namun beliau sangat baik dan ramah, malah uang sewa rumah setiap bulan jadi berkurang bukannya bertambah, beliau sangat sibuk sehingga jarang menagih biaya sewa,  kami yang selalu mengantar uang kepada beliau, bahkan tak jarang beliau lupa untuk menagihnya, kalau saja tidak kami ingatkan, namun saya dan suami sangat menghargai kepercayaan beliau, walau tidak di tanggih setiap bulan kami tetap mengantarnya tepat waktu, kepercayaan ini yang membuat beliau memberi kami bonus untuk mengurangi biaya sewa perbulan. Rumah beliau sangat tinggi, sehingga  lelah setiap hari harus naik turun tangga, namun saya dan suami sangat betah tinggal di aprtement ini, selain punya jiran  yang sangat baik dan ramah juga kondisi apartement yang begitu sangat nyaman. Setelah setahun di sana kami terpaksa pindah karena pemilik apartement mau menjualnya, untuk di jadikan modal usaha. Akhirnya saya dan suami nomaden ke apartement lain.

2.      Apartement di hentian 5
Setelah berbulan-bulan mencari rumah yang baru,  akhirnya menemukan sebuah apartement lagi, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartement yang pertama. Apartement kami yang baru ini pemiliknya juga orang cina yaitu tuan Lau.  Pemiliknya juga sangat ramah dan  baik, setiap ada perayaan cina beliau selalu memberikan kami bingkisan, saya dan suami tidak perlu ragu untuk makan bingkisan pemberian beliau,  karena walau beliau tidak seagama dengan saya dan suami, namun beliau begitu menghargai agama saya, setiap memberi bingkisan, beliau selalu memberi bingkisan yang ada logo halal, agar saya tidak bimbang untuk makan. Saya begitu betah tinggal dirumah baru ini, selain tidak terlalu tinggi hanya lantai 4 juga sangat nyaman pemandangan dari luar apartement. Selain dekat dengan restoran, apartement saya ini juga dekat dengan surau. Dari balkon rumah saya dan suami dapat menikmati indahnya suasana malam menara kembar dari kejauhan.  Tanpa terasa waktu begitu cepat berputar, saya dan suami terpaksa nomaden lagi ke indonesia karena sudah submit tesis.

3.      Sungai Tangkas
Setelah beberapa bulan kembali ke indonesia, akhirnya saya dan suami mendapat panggilan untuk sidang tesis.  Ternyata mencari rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena belum dapat rumah sewa, akhirnya kami menumpang rumah sahabat suami saya untuk beberapa hari.  Setelah berhari-hari mencari,  akhirnya  kami menemukan rumah sewa di sungai tangkas.  Rumahnya sangat nyaman karena rumah teres,  bukan apartement yang tinggi, yang lebih nyamannya ada halaman untuk olah raga,  sehingga saya dan suami bisa mengisi kekosongan waktu dengan  bermain bulu tangkis. Pemiliknya juga sangat ramah yaitu encik nuh, selain mudah untuk belanja juga sangat dekat dengan surau, para tetangga juga sangat baik dan ramah, tukaran menu makanan serta undangan perayaan sudah menjadi rutinitas saya dan suami. Selama tinggal di sini saya dapat menikmati berbagai masakan khas daerah pemberian para jiran.  Allhamdulillah sidang tesis saya dan suami berjalan lancar.  Akhirnya Saya  harus nomaden lagi ke Indonesia karena sudah selesai S2.

4.      Hentian 1 Lantai 1
Setelah beberapa bulan di Aceh, kami kembali ke Malaysia,  karena suami mendapat peluang untuk melanjutkan belajar S3 di UKM. Kali ini kami  juga menyewa apartement di Hentian 1 namun lantai 1 sehingga tidak terlalu tinggi. Pemilik apartement ini puan Syukriyah dan Tuan Syukri, namun karena hubungan kami sangat akrab, kami memanggilnya makcik dan pakcik. beliau sangat baik dan begitu mengerti dengan situasi keuangan pelajar, bahkan tagihan uang sewa perbulan  makin di kurangkan, yang membuat saya terharu beliau sangat memperhatikan kenyamanan kami,  berbagai tawaran kebajikan di berikannya untuk kami, seperti menjahit  gorden, dll.  Beliau memang orang kaya yang sangat dermawan dan sederhana, bertuah saya dan suami menyewa rumah beliau, namun karena harus melanjutkan belajar ke Jerman, dengan hati sedih kami harus pindah dari rumah beliau, haru rasanya saat hari terakhir saat kami pindah dan sedang kemas-kemas koper, makcik dan pakcik datang melawat, saling minta maaf dan tukaran email menjadi kenangan terakhir,  kini walau kami sudah berjauhan namun silahturrahmi secara email tetap terhubung, meski hanya sekedar menanyakkan kabar. Terima kasih untuk makcik dan pakcik yang telah menerima kehadiran kami dengan baik.

Saat di Jerman :

5.      Gruneuwalstrasse
Akhirnya kami nomaden ke negara eropa, Jerman adalah pilihannya.  Di negeri yang serba asing ini kami menyewa rumah herr smith. Rumah yang sangat modern dan klasik khas eropa. Walau ini pengalaman pertama kami nomaden ke eropa, tapi tidak terlalu sulit untuk mencari rumah,  rumah telah kami booking awal sebelum keberangkatan melalui  web. Rumah yang kami sewa ini begitu sangat nyaman, karena lengkap dengan furniture yang serba modern dan canggih, bahkan ukuran rumah ini tergolong besar untuk kami berdua. Setelah enam bulan di gruneuwalstrasse, saya dan suami terpaksa menyewa rumah yang lain. Bukan karena tidak nyaman tapi rumah ini kami sewa melalui agen, yang mana selain harus bayar uang sewa perbulan, juga harus bayar uang agen perbulan.  



6.      Gellertstrasse
Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami sepakat pindah.  Pertualangan mencari rumah baru pun di mulai,  media massa, website dan link-link info jadi santapan sehari-hari.  Mencari rumah di Jerman memang sangat sukar,  kalau tidak di booking lebih awal.  hampir setiap hari menghubungi yang punya rumah, namun setelah di kunjungi  kadang kurang sesuai. Di jerman ukuran rumah juga menjadi syarat untuk mengurus visa.  Saya bersyukur sekali, karena selama mencari rumah di bantu oleh seorang rakan dari Malaysia, sehingga tidak terlalu kesulitan untuk mencari alamat rumah yang di tuju, maklum kami baru beberapa bulan di jerman, banyak jalan yang belum pernah kami kunjungi.  Akhirnya melalui web saya menemukan apartement  yang dekat dengan kampus, begitu kami mengunjungi apartement, hati saya langsung terpikat, selain rumahnya nyaman, murah,  lengkap funiture, dekat kampus, dekat dengan belanja juga di kelilingi oleh jiran-jiran yang ramah.  Ternyata pemilik rumah ini juga herr smith namun saya menemukan alamatnya melalui web, saya baru tahu bahwa rumah itu punya herr smith setelah nama yang tertera di web. Untuk rumah ini saya tidak perlu membayar biaya agen,  Karena rumah ini saya hubungi langsung herr smith tanpa perantara agen. 



Akhirnya Nomaden kemari


 Di Gellertstrasse ini kami nomaden


Jalan Gellertstrasse 


 Gellertstrasse apartement yang sangat bersih dan aman


Mulai beradaptasi dengan lingkungan dan jiran baru di Gellertstrasse 


Bergaya sesaat  di Gellertstrasse sebelum ke kampus 


Suami pun ikutan bergaya 


Musim semi yang memikat


Pohon yang menarik, hanya bunga saja tanpa daun


Beginilah nasib saya yang terus hidup secara nomaden dan mengembara,  dari satu rumah kerumah yang lain, menjelajah dari satu negeri ke negeri yang lain,  untuk sesuap nasi dan setetes ilmu. Kadang suka menjadi duka dan kadang duka menjadi suka, yang pasti selalu ada tawa di setiap air mata. Insyaallah bahagia akan ada di takdir hidup kami. Di akhir tulisan saya ingin berbagi sedikit  pengalaman dalam mencari rumah serta serba-serbi tentang apartement di Jerman :


1.  Dalam mencari rumah sewa, pilihlah rumah  yang sesuai dengan keuangan. Pilihlah rumah yang bertulis " Provisionsfreie", maksudnya rumah tersebut tanpa ada komisi agen, biasanya rumah yang kita hubungi langsung dengan pemiliknya, tanpa biaya agen. Di Jerman boleh jadi rumah yang sama, pemilik yang sama,  namun punya sistem pembayaran yang berbeda. Yang pertama ada biaya agen dan yang kedua tanpa melalui biaya agen, semua tergantung melalui web mana kita menghubungi rumah tersebut, kadang ada web yang mengambil biaya agen (seperti pengalaman saya yang pertama sewa rumah), namun ada juga web yang tanpa biaya agen ( seperti pengalaman saya yang kedua). Padahal kedua rumah saya tersebut pemiliknya sama,  namun karena saya temukan info dari web yang berbeda, alhasil  cara pembayarannya juga berbeda. Di Jerman kebanyakkan pemilik rumah menawarkan rumahnya melalui website-website, jadi pandai-pandailah dalam memilih website. Ini salah satu website mencari rumah, Di website ini  banyak menawarkan rumah tanpa komisi agen, namun tetap juga selektif.
2.  Pilihlah rumah yang dekat dengan tempat belanja, tempat kerja atau kampus
3.  Pilihlah perumahan yang nyaman dan kondusif dari segi keamanan,  seperti memiliki jiran yang baik dan punya rasa kekeluargaan
4.  Biasakan mencari rumah sewa atau booking lebih awal sebelum hari kepindahan
5.  Sebelum di tempati periksalah kondisi rumah sewa dengan teliti
6.   Sebelum menepati rumah sewa, buatlah perjanjian yang tertulis dengan pemilik rumah, untuk mengelak hal-hal yang tak di inginkan di kemudian hari
7.   Sebelum menanda tangani perjanjian sewa, pahami dahulu isi dari perjanjian tersebut
8.  walau di Jerman terkenal dengan negara yang bebas minum-minuman keras (mabuk), namun negara ini sangat aman, sangat jarang terjadi pencurian di sana, setiap apartement di Jerman di lengkapi dengan alat/bel di pintu utama apartement,  yang mana melalui alat ini kita pemilik rumah dapat bertanya siapa nama tamu yang menekan bel tersebut,  tanpa harus keluar dari rumah, jika memang kita berkenan dan mengenal tamu, kita dapat menekan bel yang ada di dalam rumah. Dengan menekan bel dari dalam rumah, pintu utama aprtement akan terbuka, tamu tadi dapat masuk kedalam aprtement, setelah tamu berada dalam apartement, mereka dapat menekan pintu masuk rumah, sebagai penanda bahawa si tamu sudah bereda di pintu masuk, sehingga pemilik rumah dapat membuka pintu. Jadi jika ingin bertamu ke apartement sangat di anjurkan pihak tamu mengetahui nama belangkang pemilik rumah, hal ini untuk memudahkan saat menekan bel pada pintu utama apartement.
9.  Di Jerman setiap rumah memiliki jendela yang banyak dan besar, yang mana setiap hari penyewa di sarankan untuk selalu membuka jendela rumah, hal ini di lakukan agar rumah tidak lembab terutama pada musim dingin.
10.  Di Jerman di ruang tidur, dapur dan ruang utama,  lantai biasanya di lapisi kayu, agar pada musim panas tidak terasa terlalu panas,  karena lantai berbahan kayu, maka lantai mesti selalu kering, tidak basah, bahkan lantai di ruang mandi pun walau berbahan keramik, mesti sentiasa kering. Memang sudah sifat orang eropa tidak terlalu banyak mengunakan air,  bahkan di WC rumah tidak tersedia air, tisu sebagai penganti air di WC ( namun karena saya tidak terbiasa mengunakan tisu, maka sebagai alternatif, saya sediakan sendiri tempat penampungan air).





Bel di pintu utama apartement, umumnya mengunakan nama belakang



Bel di pintu masuk rumah



Bel di dalam rumah untuk membukakan pintu utama




 Kotak surat, apartement saya terdiri dari 8 jiran





Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca, yang baik jadikan pedoman, yang buruk jadikan pengalaman.