Oleh : Lisa Tjut Ali
Miris rasanya jika
mendengar pendapat orang-orang yang mengatakan rugi sekolah tinggi-tinggi bagi
wanita, kalau akhirnya menjadi ibu rumah tangga yang jadi pilihan terakhirnya. Dulu awalnya saya juga pernah
berpikir seperti itu, sangat rugi rasanya kalau sekolah tinggi-tinggi lalu
akhirnya hanya jadi pengangguran di rumah, ilmu yang dicari selama di bangku
kuliah seakan terbuang percuma.
Saat itu saya beranggapan, kalau hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga, tanpa sekolah juga bisa masak, menyuci dan mengurus rumah, jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi akhirnya jadi penganguran di rumah.
Bahkan saya pernah merasa sedih sekali, ketika lelah menghabiskan hari di bangku kuliah, lalu tiba-tiba harus membuat pilihan meninggalkan karir dan ikut mendampingi suami merantau. Di rantau saya hanya jadi ibu rumah tangga alias pengacara (penganguran banyak acara), tugas saya kemana suami pergi ikut mendampingi.
Saat itu saya beranggapan, kalau hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga, tanpa sekolah juga bisa masak, menyuci dan mengurus rumah, jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi akhirnya jadi penganguran di rumah.
Bahkan saya pernah merasa sedih sekali, ketika lelah menghabiskan hari di bangku kuliah, lalu tiba-tiba harus membuat pilihan meninggalkan karir dan ikut mendampingi suami merantau. Di rantau saya hanya jadi ibu rumah tangga alias pengacara (penganguran banyak acara), tugas saya kemana suami pergi ikut mendampingi.
Kini, Seiring dengan berkembangnya waktu,
pemikiran saya menjadi berbeda, apalagi setelah merasakan pengalaman menjadi
ibu rumah tangga selama 8 tahun.
Mengangur?
Siapa bilang ibu rumah
tangga mengangur, di rumah seorang ibu rumah tangga malah melakukan banyak
aktifitas. Memasak, membereskan rumah dan melayani
suami juga termasuk bekerja. Bekerja ala ibu rumah tangga. Bekerja yang kantornya di rumah dan tanpa di bayar.
Rugi ilmu selama di bangku studi?
Selama ini kita sering
menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga, seolah-olah melakukan rutinitas rumah
tangga tidak perlu ilmu, padahal justru pekerjaan ibu rumah tangga yang perlu
menguasai banyak ilmu. Ilmu
dibangku kuliah itu tidak pernah rugi meski seorang wanita tidak
bekerja kantoran, karena ilmu di bangku kuliah itu sangat berguna untuk
bekal wanita dalam
mengelola rumah tangga. Mungkin kalau
seorang pekerja di kantor keuangan, tentu saja kerjanya hanya mengurus masalah keuangan. Begitu juga kalau seorang pekerja di bidang kesehatan, pasti ruang lingkup kerjanya berhubungan dengan medis. Namun bagi ibu rumah tangga, tentu saja banyak hal yang harus dilakukannya.
Seorang
ibu bukan saja mengurus keuangan keluarga, bahkan
kesehatan dan permasalahan dalam keluarga harus ditanganinya. Untuk mengurus
semua itu tentu saja seorang ibu rumah tangga perlu ilmu yang banyak, tidak cukup hanya ilmu
ekonomi.
Pengalaman saya
pribadi, sehari -hari saja saya harus mengelola uang belanja bulanan pemberian
suami, saya harus mengatur Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga (APBK) agar
dengan pendapatan yang papasan dapat menampung semua kebutuhan (tentu saja ilmu
ekonomi saat saya kuliah dulu sangat diperlukan untuk tugas ini). Saya juga harus memasak,
menjaga dan mengontrol makanan apa yang boleh dan yang tidak boleh di konsumsi
suami sesuai dengan riwayat penyakit yang dialami suami ( tentu saja dalam hal
ini setidaknya saya memerlukan sedikit ilmu kedokteran agar dapat menyajikan makanan yang
sehat untuk keluarga).
Bagi yang mempunyai anak, kepintaran si ibu pula dapat digunakan untuk membimbing anak-anaknya saat belajar, seperti membantu anak-anak buat PR matematik, agama, IPA, IPS, dll. Bahkan kadangkala ibu rumah tangga juga berperan sebagai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menyelidiki sumber pendapatan suami, apakah ada yang berasal dari sumber yang tidak jelas alias korupsi. Ibu rumah tangga juga berperan sebagai MUI (Majelis Ulama Indonesia) atau badan POM (badan pengawas obat dan makanan) yang bertugas menyeleksi komposisi halal atau tidak setiap makanan yang dibeli untuk keluarga. Seorang ibu rumah tangga kadang bertindak sebagai MK (Mahkamah Konstitusi) dalam menegakkan keadilan dalam rumah tangga, seperti ketika bertindak adil terhadap anak-anak yang sedang bertikai (tentu saja ilmu hukum sangat perlu dalam hal ini agar si ibu dapat bertindak adil dan bijak dalam bersikap terhadap anak-anak). Belum lagi kalau suami curhat masalah pekerjaan dan studi beliau, tentu saja saya juga harus punya ilmu dan pengalaman yang setaraf dengan beliau agar dapat membantu suami menyelesaikan masalahnya tersebut.
Bagi yang mempunyai anak, kepintaran si ibu pula dapat digunakan untuk membimbing anak-anaknya saat belajar, seperti membantu anak-anak buat PR matematik, agama, IPA, IPS, dll. Bahkan kadangkala ibu rumah tangga juga berperan sebagai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menyelidiki sumber pendapatan suami, apakah ada yang berasal dari sumber yang tidak jelas alias korupsi. Ibu rumah tangga juga berperan sebagai MUI (Majelis Ulama Indonesia) atau badan POM (badan pengawas obat dan makanan) yang bertugas menyeleksi komposisi halal atau tidak setiap makanan yang dibeli untuk keluarga. Seorang ibu rumah tangga kadang bertindak sebagai MK (Mahkamah Konstitusi) dalam menegakkan keadilan dalam rumah tangga, seperti ketika bertindak adil terhadap anak-anak yang sedang bertikai (tentu saja ilmu hukum sangat perlu dalam hal ini agar si ibu dapat bertindak adil dan bijak dalam bersikap terhadap anak-anak). Belum lagi kalau suami curhat masalah pekerjaan dan studi beliau, tentu saja saya juga harus punya ilmu dan pengalaman yang setaraf dengan beliau agar dapat membantu suami menyelesaikan masalahnya tersebut.
Seperti saat ini, suami saya
sedang menuntut ilmu kejenjang yang lebih tinggi, saya berpikir pemikiran
beliau dulu dengan sekarang pasti berbeda dari segi pengalaman dan wawasan. Tentu
saja saya juga harus menambah ilmu dan wawasan saya agar dapat seiring dengan
pemikiran suami, dengan begitu saya akan
lebih mudah membantu suami dalam mengatasi permasalahannya. Semakin tinggi
pendidikan suami maka permasalahan yang dihadapi pun semakin luas, tentu saja penyelesaain permasalahannya juga
berbeda. Saya berharap dengan melanjutkan pendidikan lagi, ilmu dan pengalaman
saya dapat sehaluan dengan pemikiran dan permasalahan suami.
Jenjang sekolah saja,
semakin tinggi jenjang sekolah maka makin tinggi juga tingkat ilmu guru dan pengajar yang dibutuhkan, misal untuk sekolah dasar (SD), guru atau
pengajar biasanya lulusan D3 atau S1, namun kalau sudah mengajar di tingkat Universitas
maka pengajar atau dosen dituntun lulusan S2 atau S3. Hal ini dilakukan agar
wawasan guru dapat menyeimbangkan
wawasan pelajar. Begitu juga dengan saya dan suami, saya selalu beranggapan kalau saya punya ilmu
dan wawasan, Insyaallah saya dapat membangun wawasan keluarga.
Saya yakin jika perekonomian, pendidikan, kesehatan, keluarga stabil maka secara tidak
langsung menyumbang kepada membaik dan stabilnya perekonomian, pendidikan dan
kesehatan negara. Intinya tidak ada yang rugi dalam
mencari ilmu meskipun tidak berkarir. Ilmu itu bukan saja ada di
sekolah-sekolah tapi juga bisa di
peroleh dari pengalaman-pengalaman.
Saya merasa kurang
tepat jika orang mengatakan dengan sekolah S1, S2, S3 pemikirannya akan semakin
baik dan berkembang, tapi yang lebih
tepat adalah dengan ilmu lah pemikiran seseorang menjadi lebih baik dan
bijaksana. Seseorang yang sekolah S1, S2 dan S3 itu belum tentu berilmu, kalau hanya untuk mengejar selembar
sertifikat, ijazah untuk mendapat titel.
Namun alangkah indahnya kalau kita bisa S1, S2, S3, bisa mendapatkan ilmu, ijazah sekaligus titel.
Jadi bagi ibu rumah tangga yang masih lulusan SMU, S1 atau bahkan yang belum
punya kesempatan sekolah, tidak perlu pesimis merasa diri tidak cerdas. Selama
wanita tersebut punya ilmu dari pengalaman,
Insyaallah ia akan mampu mendidik keluarga dengan baik. Pengalaman
adalah ilmu yang paling berharga untuk di praktekkan.
Saya sangat bersyukur karena
mempunyai keluarga yang berpemikiran terbuka, walau orang tua saya hanya
lulusan sekolah menengah, namun beliau selalu memiliki pandangan dan pengalaman
yang luas dan cara berpikir yang berbeda.
Orang tua selalu
menjadi motivasi untuk saya melanjutkan cita-cita. Mereka tidak pernah berpikir
bahwa seorang wanita yang sekolah tinggi, lalu memilih menjadi ibu rumah tangga
merupakan sebuah kerugian.
Di balik kecerdasan seorang anak ada
seorang ibu yang lebih cerdas
Di balik bijaknya seorang suami ada
seorang istri yang lebih bijak
Dibalik pintarnya seorang pelajar ada
seorang guru yang lebih pintar
(* Catatan dan renungan