Coretan pena

Rabu, 13 November 2013

Semua akhirnya akan kembali



                                                                                                             Oleh : Lisa Tjut Ali


 
Setiap kesedihan, kesendirian akan ada puncak kebahagiaan di depan kita


Kepergian Marina

Marina adalah teman masa kecil saya. Sebenarnya usia saya dengan Marina jauh berbeda. Dia lebih cocok jadi adik saya, daripada sebagai teman sepermainan. Di Komplek Pendopo tidak ada teman seumuran saya, akhirnya Marina lah jadi teman sepermainan. Waktu kecil kami kerap menghabiskan hari bersama. Kami pun saling membantu bila mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah tidak ada pembantu rumah tangga, jadi pekerjaan rumah kami kerjakan bersama-sama ahli keluarga, ibu yang memasak, kakak yang menyapu dan merapikan rumah, sedangkan mencuci piring menjadi tugas saya setiap sore. Marina selalu datang membantu membilas piring-piring yang sedang saya cuci dan menemani saya mandi. Setelah itu gantian saya yang menemaninya.

Saya masih ingat ketika Marina menjatuhkan sabun ke dalam sumur. Saat itu rumah di komplek satu sumur dibagi untuk dua rumah. Rumah saya dan Marina bertetangga, jadi satu sumur itu untuk dua kamar mandi yaitu kamar mandi saya dan kamar mandi Marina. Karena posisi kamar mandi yang bersebelahan dengan Marina, saat mandi kami suka sekali tukaran sabun melalui sumur. Waktu itu Marina baru membeli sabun yang sangat harum, kami pun bertukaran, rupanya tangan saya dan Marina saat itu licin, sabun batangan pun jatuh ke dalam sumur, alhasil air tidak bisa di gunakan untuk masak dalam beberapa hari, saya dan Marina pun kenyengiran mengakui kesalahan kami, keluarga Marina dan saya pun mulai gotong royong untuk menguras air sumur.

Jika semua tugas selesai, biasanya kami akan bermain bersama. Setiap anak-anak komplek akan mengaji di surau pendopo. Bila waktu mengaji kami akan berangkat bersama. Marina termasuk anak yang pintar, suara Marina mengaji mengalun begitu merdu.

Marina juga yang jadi motivasi untuk saya, ketika saya belajar berkreatif, membuat gantungan kunci bertuliskan nama, ia pula yang pertama yang memesan buatan tangan saya, saya sangat senang sekali mendapat apresiasi dari Marina sehingga ingin membuat lebih baik. Ketika saya sakit dan ingin bercerita Marina juga tempat curhat saya. Curhat polos masa anak-anak. Kami juga pernah berselisih paham, namun hanya sebentar, salaman tangan, ucapan maaf dan senyuman yang menyatukan kami kembali.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Kami semakin tumbuh dewasa, Marina menjadi gadis yang sangat manis. Sayang, menginjak usia dewasa kami tidak bisa bersama lagi setiap hari, saya harus pindah rumah ke desa Lampisang karena ayah sudah pensiun kerja. Lambat laun Marina juga pindah rumah ke Lamdingin. Walau rumah kami jauhan namun kami tetap jalin silahturrahmi.

Tahun 2004,  ketika saya harus kehilangan Marina

Hari itu gempa dan tsunami melanda Aceh, tempat tinggal saya dan Marina termasuk lokasi terberat kena tsunami. Saat itu kami masing-masing berjuang menyelamatkan diri dari hantaman tsunami, saya tidak tahu bagaimana keadaan Marina ketika berjuang dalam amukan gelombang air yang hitam memekat, karena saya sendiri juga sedang bertarung dengan gelombang yang sama.

Allhamdulillah,  saya selamat. Innalillahi wa innailaihi roji'un, Marina telah kembali kepada Yang Maha Cinta. Saya mendapat kabar Marina, ibu dan adik-adiknya telah tiada, diri ini merasa kurang yakin dengan kabar tersebut, untuk mendapat kepastian, saya pergi ke area rumah Marina. Semua rumah telah rata menjadi tanah hingga tak berbekas, tak ada lagi pagar kokoh tempat biasa Marina berdiri melambaikan tangan bila saya pergi atau pulang dari rumahnya, tak ada lagi senyuman manis dan manja Marina yang selalu berdiri di sudut pintu, saya kehilangan Marina, saya kehilangan teman masa kecil saya.

Walau Marina telah pergi, ia sering hadir dalam mimpi saya, ia seakan masih hidup dan ikut kemana jiwa saya pergi. Ketika saya di Aceh ia selalu hadir dalam mimpi, ketika saya merantau ke Malaysia, saya juga bermimpi tentangnya dan kini ketika saya harus berpindah ke benua lain, ia tetap hadir dalam mimpi , ia tetap menjadi teman terbaik walau hanya dalam mimpi. Kami seolah-olah dekat, kami masih bercerita bersama. Kini hanya doa yang dapat saya kirim untuknya.

Kehilangan Marina seperti kehilangan satu anggota tubuh, saya seperti kehilangan akal untuk berpikir, saya seperti tidak tahu lagi bagaimana untuk tersenyum, namun mimpi-mimpi indah dan senyumnya terus memotivasi saya untuk terus berkreatif dan melupakan trauma tsunami. Tangannya seakan mengiring saya untuk terus tersenyum dan berjalan menyongsong kehidupan. Meski Tsunami membawa pergi Marina, namun saya bersyukur, Allah pernah memberi saya kesempatan mengenal Marina, walau hanya sesaat.................


Ketika Macut pergi

Macut adalah adik ibu saya. Sejak kecil Macut yang yatim tinggal bersama kami. Ibu saya yang membiayai sekolah Macut. Waktu itu kami masih kecil-kecil, selain dengan orang tua, sama Macut lah kami bermanja. Dari mandi, buat PR, bermain ditemani oleh beliau. Ketika kami mulai dewasa dan Macut sudah selesai sekolah, beliau mulai mencoba hidup mandiri di kampung, ibu tidak melarang keinginan beliau, lagi pula beliau masih sering juga ketempat kami, begitu juga dengan kami, bila telah tiba masa liburan, pasti balik kekampung untuk menjenguk Macut. Saya sangat suka berlibur kekampung. Di kampung saya hidup bak seorang putri, apa yang saya inginkan selalu dibelikan oleh Macut, jika kepasar saya selalu dibelikan berbagai macam mainan, baju dan makanan, saya betah sekali berayun manja dengan Macut. Satu hal yang membuat saya sedih, melihat Macut yang sudah berumur tidak juga menikah, padahal saya ingin sekali melihat beliau menikah dan punya keluarga.

Waktu berjalan seperti jarum jam, cepat tak pernah berhenti, saya yang dulunya masih bermanja dipangkuan Macut, kini sudah membina rumah tangga, meski sudah menikah, kasih sayang saya pada Macut tidak berubah.

Awal 2007

Saya mendapat kabar bahwa Macut sakit parah, akhirnya Macut kami rujuk dari rumah sakit di kampung ke rumah sakit Banda Aceh agar lebih dekat dengan kami. Saat itu kakak yang bekerja di bagian kesehatan yang mengurus rujukan untuk Macut, kakak memilih rumah sakit swasta terbaik yang ada di Banda Aceh waktu itu, kami pun memilih kamar yang bagus untuk Macut, kami berharap agar Macut yang hanya sebatang kara, tanpa ayah, ibu dan suami, tidak merasa kekurangan kasih sayang, kami ingin Macut tahu bahwa kami selalu menyayangi beliau. Kami sekeluarga bergantian menjaga Macut waktu itu, karena mengingat saya dan kakak bekerja. Waktu itu saya sedang terikat kontrak dengan salah satu NGO dan bertugas keliling propinsi Aceh sehingga tidak bisa jaga Macut sepanjang hari. Setelah dirawat di Banda Aceh Macut menyatakan keinginannya untuk kembali ke kampung, beliau ingin dirawat disana, walau kami sudah membujuknya namun beliau ingin sekali tetap balik ke kampung. Mengingat di kampung juga ada ahli keluarga dekat pihak ibu yang akan menjaga, kami akhirnya akur dengan keinginan beliau untuk balik kampung.

Setelah beberapa hari di kampung, saya mendapat kabar bahwa Macut akan dioperasi, menurut salah satu ahli keluarga di kampung, setelah diamputasi, Macut akan dibuat kaki palsu gratis oleh salah satu NGO.

Allhamdulillah, operasi Macut berjalan lancar, kami bahagia mendapat kabar itu. Apalagi setelah operasi, Macut masih bisa tersenyum, namun siapa menduga, rencana Allah, Allah lebih sayang Macut, Macut dipanggil oleh Yang Maha Cinta tanpa sempat mengunakan kaki palsu .

Saat mendapat kabar tersebut, saya sedang berada di kabupaten lain. Penguburan Macut langsung dilakukan tanpa menunggu kepulangan saya. Kakak dan ibu saya bertuah sekali, mereka sempat memandikan beliau untuk terakhir kalinya.

Saya tak menyangka, kalau senyuman, canda Macut saat berada di rumah sakit Banda Aceh merupakan canda dan senyuman yang terakhir untuk saya, saat itu saya dan suami duduk persis di depan kepala Macut, saya belai-belai rambutnya yang semakin tipis, saya candai beliau hingga tersenyum dan melupakan sakit walau sesaat.

Saya tak menduga lambaian tangan beliau saat di ambulance merupakan lambaian tangan perpisahan.

Saat mendapat kabar duka tentang Macut, saya dari Sabang ke Banda Aceh lalu langsung ke Sigli naik motor, kami memandu seperti orang kesetanan agar dapat melihat raut ketenangan Macut yang terakhir kali, tapi yang tersisa hanya tanah basah diatas kuburannya.

Kini Macut telah pergi, tiada lagi belaian atau dogeng pengantar tidur darinya. kehilangan Macut seperti kehilangan satu kaki saya, saya seakan pincang untuk berjalan, saya seakan tertatih-tatih tanpa nasehat dan senyumnya.

Terima kasih Yang Maha Cinta, karena memberi saya kesempatan bersama Macut, walau hanya sesaat. Saya tahu Yang Maha Cinta lebih tulus menyayangi Macut daripada saya.

Tiada lagi senyum Dedi

Dedi adalah adik ipar saya, orangnya super kocak dan ribut, sangat berbeda dengan suami saya yang sangat pendiam, karena sifat Dedi yang gokil inilah buat saya mudah akrab dengan keluarga suami. Sifat periang Dedi bisa merubah suasana rumah mertua yang kaku menjadi riuh. 

Belakangan Dedi sakit berat, keluar masuk rumah sakit seperti absen mingguan, badannya semakin kurus, yang tersisa hanya semangat dan keceriaannya. Kami sudah berusaha mengobatinya baik secara medis maupun secara tradisional, namun sakit Dedi tidak juga pulih. 

Waktu itu  Dedi sempat dirujuk kerumah sakit banda aceh, kondisinya mulai membaik dan dokter mengizikannya kembali kerumah. Beberapa hari dirumah,  sakit Dedi kumat lagi hingga akhirnya kembali dibawa kerumah sakit.  

Saat sedang dirawat di rumah sakit, Dedi minta pulang ke rumah, dokter tidak mengizinkannya pulang, namun Dedi tetap nekat ingin pulang. Seakan ia sudah mengerti, telah tiba masanya ia akan pergi untuk selamanya dan ia ingin menghabiskan nafas terakhir hanya di rumah. Berulang kali saat itu ia katakan pada bunda bahwa ingin cepat pulang, waktu hanya tersisa beberapa menit lagi. Akhirnya bunda pun membawanya pulang, papa saat itu sedang ke Medan untuk membeli obat untuk Dedi, saat itu Dedi juga minta dibelikan pesawat mainan pakai remote. Permintaan yang aneh menurut papa, lagi sakit tapi malah minta pesawat,  namun papa tetap memenuhi keinginannya.  

Dalam perjalanan pulang Dedi tak henti-hentinya berzikir, bunda yang melirik Dedi disampingnya berulangkali mengusap keringat dingin yang keluar di dahinya. di biarkannya Dedi terus berzikir sambil memejamkan mata dengan harapan agar ia bisa tertidur nyenyak dalam perjalanan pulang. Saat sampai dirumah, ketika bunda hendak membangunkan Dedi, bunda mengira Dedi ketiduran, ternyata Dedi telah pergi untuk selamanya. 

Dedi pergi tanpa  menunggu kepulangan kami. Dedi pergi tanpa menunggu papa. Dedi pergi tanpa sempat menerbangkan pesawatnya. Kini yang tersisa hanya kenangan dan kebersamaan dengannya. Pesawat itu masih tertata rapi diatas lemari. Masih utuh dengan bungkusan, karena si pemilik telah pergi tanpa kembali.

Nek Neh pun pergi

Nek Neh bukan nenek kandung saya, beliau adalah macut dari nenek. Nek Neh tinggal bersama sepupu ayah, rumahnya persis di depan rumah kami. Nek Neh sangat suka duduk di depan teras sambil memperhatikan cucu-cucunya yang pulang-pergi dari sekolah atau kerja. Mulut nya pun tidak berhenti dari berzikir. Senyum, sapaan, doa dan lambaian tangannya seakan jadi semangat untuk kami. Saya sangat suka duduk  di teras dengan Nek Neh jika pulang kerja. Menyenangkan sekali duduk dengan Nek Neh. Kalau sedang duduk dengan Nek Neh saya sangat suka minta diceritakan tentang sejarah atau kisah-kisah lama, biasanya permintaa saya tak pernah di tolak Nek Neh. bagi saya Nek Neh seorang wanita yang istimewa, istimewa dalam beribadah juga istimewa dalam menjaga kesehatan. Beliau termasuk wanita yang sangat awet muda dan sehat. Di usia beliau yang hampir lebih dari 100 tahun namun masih mampu berjalan tanpa tongkat, bahkan beliau masih bisa membaca Alquran tanpa kacamata, ingatan beliau juga masih kuat,  beliau bisa membedakan antara saya dan kakak-kakak, walaupun saya dan kakak merantau dan baru pulang saat liburan. Beliau juga masih ingat sejarah-sejarah lama dan teman-teman beliau. Di usia senjanya beliau masih rutin berpuasa senin kamis. Satu hal yang membuat saya merasa nyaman berada dekat beliau adalah karena sifat beliau yang tulus, mulutnya penuh dengan ucapan yang baik dan doa indah. Bagi saya ucapan seseorang itu merupakan doa dan ucapan yang baik merupakan doa yang baik. Ucapan-ucapan nek neh selalu mengandug doa yang indah, rasanya rasa lelah saya seharian lenyap, ketika mendengar Nek Neh berkata '' Beumeutuah, beupanyang umu, beusehat, beumalem , beukaya  cuco lon ( Semoga bertuah, panjang umur, sehat, Alim, kaya cucu saya). Aamiin.

Saat saya di Malaysia, saya ditelpon oleh kakak memberitahu bahwa Nek Neh telah meninggal, saya begitu sangat sedih kehilangan Nek Neh, kini tak ada lagi orang yang menengur dan melambaikan tangan saat saya pergi dan pulang kerja. Teras itu telah sepi, Nek Neh wanita bermulut doa itu telah pergi untuk selamanya. Saya seperti kehilangan tangan, saya kehilangan lambaian-lambaian penyemangat kala bekerja.

Ternyata hidup itu tak abadi, semua akhirnya akan kembali,  hanya amalan baik yang akan kita bawa dan hanya kenangan manis yang tersisa untuk  orang terdekat kita






(* Catatan dan renungan









Senin, 11 November 2013

Bekerja Ala ibu rumah tangga



                                                                                 Oleh : Lisa Tjut Ali



Miris rasanya jika mendengar pendapat orang-orang yang mengatakan rugi sekolah tinggi-tinggi bagi wanita, kalau akhirnya menjadi ibu rumah tangga yang jadi pilihan terakhirnya. Dulu awalnya saya juga pernah berpikir seperti itu, sangat rugi rasanya kalau sekolah tinggi-tinggi lalu akhirnya hanya jadi pengangguran di rumah, ilmu yang dicari selama di bangku kuliah seakan terbuang percuma. 

     Saat itu saya beranggapan,  kalau hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga, tanpa sekolah juga bisa masak, menyuci dan mengurus rumah, jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi akhirnya jadi penganguran di rumah. 

    Bahkan saya pernah merasa sedih sekali, ketika lelah menghabiskan hari di bangku kuliah, lalu tiba-tiba harus membuat pilihan meninggalkan karir dan ikut mendampingi suami merantau. Di rantau  saya hanya jadi ibu rumah tangga alias pengacara (penganguran banyak acara), tugas saya kemana suami pergi ikut mendampingi.  

 Kini, Seiring dengan berkembangnya waktu, pemikiran saya menjadi berbeda, apalagi setelah merasakan pengalaman menjadi ibu rumah tangga selama 8 tahun.

Mengangur?

Siapa bilang ibu rumah tangga mengangur, di rumah seorang ibu rumah tangga malah melakukan banyak aktifitas. Memasak, membereskan rumah dan melayani suami juga termasuk  bekerja. Bekerja ala ibu rumah tangga. Bekerja yang kantornya di rumah dan tanpa di bayar.

Rugi ilmu selama di bangku studi?

Selama ini kita sering menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga, seolah-olah melakukan rutinitas rumah tangga tidak perlu ilmu, padahal justru pekerjaan ibu rumah tangga yang perlu menguasai banyak ilmu. Ilmu dibangku kuliah itu tidak pernah rugi meski seorang wanita tidak bekerja kantoran, karena ilmu di bangku kuliah itu sangat berguna untuk bekal wanita dalam mengelola rumah tangga. Mungkin kalau  seorang pekerja di kantor keuangan, tentu saja kerjanya hanya mengurus masalah keuangan. Begitu juga kalau seorang pekerja di bidang kesehatan, pasti ruang lingkup kerjanya berhubungan dengan medis. Namun bagi ibu rumah tangga,  tentu saja banyak hal yang harus dilakukannya. Seorang ibu bukan saja mengurus keuangan keluarga, bahkan kesehatan dan permasalahan dalam keluarga harus ditanganinya. Untuk mengurus semua itu tentu saja seorang ibu rumah tangga perlu ilmu yang banyak, tidak cukup hanya ilmu ekonomi.

Pengalaman saya pribadi, sehari -hari saja saya harus mengelola uang belanja bulanan pemberian suami, saya harus mengatur Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga (APBK) agar dengan pendapatan yang papasan dapat menampung semua kebutuhan (tentu saja ilmu ekonomi saat saya kuliah dulu sangat  diperlukan untuk tugas ini). Saya juga harus memasak, menjaga dan mengontrol makanan apa yang boleh dan yang tidak boleh di konsumsi suami sesuai dengan riwayat penyakit yang dialami suami ( tentu saja dalam hal ini setidaknya saya memerlukan sedikit ilmu kedokteran agar dapat menyajikan makanan yang sehat untuk keluarga). 

    Bagi yang mempunyai anak, kepintaran si ibu pula dapat digunakan untuk membimbing anak-anaknya saat belajar, seperti membantu anak-anak buat PR matematik, agama, IPA, IPS, dll. Bahkan kadangkala ibu rumah tangga juga berperan sebagai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menyelidiki sumber pendapatan suami, apakah ada yang berasal dari sumber  yang tidak jelas alias korupsi. Ibu rumah tangga juga berperan sebagai MUI (Majelis Ulama Indonesia) atau badan POM (badan pengawas obat dan makanan) yang bertugas menyeleksi komposisi halal atau tidak setiap makanan yang dibeli untuk keluarga. Seorang ibu rumah tangga kadang bertindak sebagai MK (Mahkamah Konstitusi) dalam menegakkan keadilan dalam rumah tangga, seperti ketika bertindak adil terhadap anak-anak yang sedang bertikai (tentu saja ilmu hukum sangat perlu dalam hal ini agar si ibu dapat bertindak adil dan bijak dalam bersikap terhadap anak-anak). Belum lagi kalau suami curhat masalah pekerjaan dan studi beliau,  tentu saja saya juga harus punya ilmu dan pengalaman yang setaraf dengan beliau agar dapat membantu suami menyelesaikan masalahnya tersebut. 

Seperti saat ini, suami saya sedang menuntut ilmu kejenjang yang lebih tinggi, saya berpikir pemikiran beliau dulu dengan sekarang pasti berbeda dari segi pengalaman dan wawasan. Tentu saja saya juga harus menambah ilmu dan wawasan saya agar dapat seiring dengan pemikiran suami, dengan begitu saya akan lebih mudah membantu suami dalam mengatasi permasalahannya. Semakin tinggi pendidikan suami maka permasalahan yang dihadapi pun semakin luas,  tentu saja penyelesaain permasalahannya juga berbeda. Saya berharap dengan melanjutkan pendidikan lagi, ilmu dan pengalaman saya dapat sehaluan dengan pemikiran dan permasalahan suami.

Jenjang sekolah saja, semakin tinggi jenjang sekolah maka makin tinggi juga tingkat  ilmu guru dan pengajar yang dibutuhkan,  misal untuk sekolah dasar (SD), guru atau pengajar biasanya lulusan D3 atau S1, namun kalau sudah mengajar di tingkat Universitas maka pengajar atau dosen dituntun lulusan S2 atau S3. Hal ini dilakukan agar wawasan  guru dapat menyeimbangkan wawasan  pelajar.  Begitu juga dengan  saya dan suami,  saya selalu beranggapan kalau saya punya ilmu dan wawasan, Insyaallah saya dapat membangun wawasan keluarga.

Saya yakin jika perekonomian, pendidikan,  kesehatan, keluarga stabil maka secara tidak langsung menyumbang kepada membaik dan stabilnya perekonomian, pendidikan dan kesehatan negara. Intinya tidak ada yang rugi dalam mencari ilmu meskipun tidak berkarir. Ilmu itu bukan saja ada di sekolah-sekolah tapi juga  bisa di peroleh dari pengalaman-pengalaman. 

Saya merasa kurang tepat jika orang mengatakan dengan sekolah S1, S2, S3 pemikirannya akan semakin baik dan berkembang,  tapi yang lebih tepat adalah dengan ilmu lah pemikiran seseorang menjadi lebih baik dan bijaksana.  Seseorang yang  sekolah S1, S2 dan S3 itu belum tentu berilmu,  kalau hanya untuk mengejar selembar sertifikat,  ijazah untuk mendapat titel. Namun alangkah indahnya kalau kita bisa S1, S2, S3,  bisa mendapatkan ilmu, ijazah sekaligus titel. Jadi bagi ibu rumah tangga yang masih lulusan SMU, S1 atau bahkan yang belum punya kesempatan sekolah, tidak perlu pesimis merasa diri tidak cerdas. Selama wanita tersebut punya ilmu dari pengalaman,  Insyaallah ia akan mampu mendidik keluarga dengan baik. Pengalaman adalah ilmu yang paling berharga untuk di praktekkan.

Saya sangat bersyukur  karena  mempunyai keluarga yang berpemikiran terbuka, walau orang tua saya hanya lulusan sekolah menengah, namun beliau selalu memiliki pandangan dan pengalaman yang luas dan cara berpikir yang berbeda.  Orang tua selalu menjadi motivasi untuk saya melanjutkan cita-cita. Mereka tidak pernah berpikir bahwa seorang wanita yang sekolah tinggi, lalu memilih menjadi ibu rumah tangga merupakan sebuah kerugian.



Di balik kecerdasan seorang anak ada seorang ibu yang lebih cerdas
Di balik bijaknya seorang suami ada seorang istri yang lebih bijak
Dibalik pintarnya seorang pelajar ada seorang guru yang lebih pintar




(* Catatan dan renungan 








Jumat, 08 November 2013

Saling kenal untuk memahami perbedaan

                                                                                               
                                                                                                   
                                                                                               Oleh : Lisa Tjut Ali

                                                                                                



  
Silahturrahmi Muslim di Jerman




Beberapa  hari yang lalu ketika saya menuruni tangga berhadapan dengan seorang pria bersama anjing kesayangannya, hendak menaiki tangga. Awalnya anjing itu tampak tenang namun menjadi garang, mengongong sekuatnya, hendak menyerang. Rupanya anjing itu melihat seekor anjing yang  sedang menuruni tangga bersama tuannya persis di belakang saya. Anjing di belakang saya juga melakukan hal yang sama, mengongong dan memberontak tak mau menurut kata tuannya, meski sudah dipukul berulangkali. Ini bukan kali pertama saya melihat anjing yang beda tuannya, akan saling menyerang bila berhadapan. Anehnya anjing yang walau beda jenisnya akan terlihat akur dan menyayangi jika dimiliki tuan yang sama, mungkin karena tidak saling mengenal saya pikir. Bahkan pernah  seekor anjing  yang melihat dirinya di kaca mengongong dan menyerang dirinya, karena tak pernah melihat  dan mengenal wujudnya sendiri, merasa itu anjing yang lain. Anjing- anjing yang tidak saling mengenal  selalu  mengangap musuh lawan mereka.

Saya jadi berpikir, kita sering sekali menvonis orang lain yang belum dekat dengan kita sebagai seorang yang sombong, hanya karena ia tidak ramah dengan kita, padahal itu terjadi karena kita belum mengenal pribadinya, mungkin saja orang tersebut memang tipe pendiam atau cuek. Tidak saling kenal memang tidak muncul rasa simpati, alhasil kita sering menduga yang bukan sahabat kita adalah musuh. Padahal boleh jadi setelah kita saling kenal, seseorang yang kita anggap musuh, sombong, menjadi sahabat sejati kita kelah.

Dalam rumah tangga saja pasangan yang tidak saling mengenal  dan memahami perbedaan  karakter  akan sering timbul perselisihan, namun  jika sudah saling kenal karakter maka perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah dalam rumah tangga. Perbedaan sebagai pelengkap bukan jurang pemisah



(* Catatan dan renungan