Rabu, 13 November 2013

Semua akhirnya akan kembali



                                                                                                             Oleh : Lisa Tjut Ali


 
Setiap kesedihan, kesendirian akan ada puncak kebahagiaan di depan kita


Kepergian Marina

Marina adalah teman masa kecil saya. Sebenarnya usia saya dengan Marina jauh berbeda. Dia lebih cocok jadi adik saya, daripada sebagai teman sepermainan. Di Komplek Pendopo tidak ada teman seumuran saya, akhirnya Marina lah jadi teman sepermainan. Waktu kecil kami kerap menghabiskan hari bersama. Kami pun saling membantu bila mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah tidak ada pembantu rumah tangga, jadi pekerjaan rumah kami kerjakan bersama-sama ahli keluarga, ibu yang memasak, kakak yang menyapu dan merapikan rumah, sedangkan mencuci piring menjadi tugas saya setiap sore. Marina selalu datang membantu membilas piring-piring yang sedang saya cuci dan menemani saya mandi. Setelah itu gantian saya yang menemaninya.

Saya masih ingat ketika Marina menjatuhkan sabun ke dalam sumur. Saat itu rumah di komplek satu sumur dibagi untuk dua rumah. Rumah saya dan Marina bertetangga, jadi satu sumur itu untuk dua kamar mandi yaitu kamar mandi saya dan kamar mandi Marina. Karena posisi kamar mandi yang bersebelahan dengan Marina, saat mandi kami suka sekali tukaran sabun melalui sumur. Waktu itu Marina baru membeli sabun yang sangat harum, kami pun bertukaran, rupanya tangan saya dan Marina saat itu licin, sabun batangan pun jatuh ke dalam sumur, alhasil air tidak bisa di gunakan untuk masak dalam beberapa hari, saya dan Marina pun kenyengiran mengakui kesalahan kami, keluarga Marina dan saya pun mulai gotong royong untuk menguras air sumur.

Jika semua tugas selesai, biasanya kami akan bermain bersama. Setiap anak-anak komplek akan mengaji di surau pendopo. Bila waktu mengaji kami akan berangkat bersama. Marina termasuk anak yang pintar, suara Marina mengaji mengalun begitu merdu.

Marina juga yang jadi motivasi untuk saya, ketika saya belajar berkreatif, membuat gantungan kunci bertuliskan nama, ia pula yang pertama yang memesan buatan tangan saya, saya sangat senang sekali mendapat apresiasi dari Marina sehingga ingin membuat lebih baik. Ketika saya sakit dan ingin bercerita Marina juga tempat curhat saya. Curhat polos masa anak-anak. Kami juga pernah berselisih paham, namun hanya sebentar, salaman tangan, ucapan maaf dan senyuman yang menyatukan kami kembali.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Kami semakin tumbuh dewasa, Marina menjadi gadis yang sangat manis. Sayang, menginjak usia dewasa kami tidak bisa bersama lagi setiap hari, saya harus pindah rumah ke desa Lampisang karena ayah sudah pensiun kerja. Lambat laun Marina juga pindah rumah ke Lamdingin. Walau rumah kami jauhan namun kami tetap jalin silahturrahmi.

Tahun 2004,  ketika saya harus kehilangan Marina

Hari itu gempa dan tsunami melanda Aceh, tempat tinggal saya dan Marina termasuk lokasi terberat kena tsunami. Saat itu kami masing-masing berjuang menyelamatkan diri dari hantaman tsunami, saya tidak tahu bagaimana keadaan Marina ketika berjuang dalam amukan gelombang air yang hitam memekat, karena saya sendiri juga sedang bertarung dengan gelombang yang sama.

Allhamdulillah,  saya selamat. Innalillahi wa innailaihi roji'un, Marina telah kembali kepada Yang Maha Cinta. Saya mendapat kabar Marina, ibu dan adik-adiknya telah tiada, diri ini merasa kurang yakin dengan kabar tersebut, untuk mendapat kepastian, saya pergi ke area rumah Marina. Semua rumah telah rata menjadi tanah hingga tak berbekas, tak ada lagi pagar kokoh tempat biasa Marina berdiri melambaikan tangan bila saya pergi atau pulang dari rumahnya, tak ada lagi senyuman manis dan manja Marina yang selalu berdiri di sudut pintu, saya kehilangan Marina, saya kehilangan teman masa kecil saya.

Walau Marina telah pergi, ia sering hadir dalam mimpi saya, ia seakan masih hidup dan ikut kemana jiwa saya pergi. Ketika saya di Aceh ia selalu hadir dalam mimpi, ketika saya merantau ke Malaysia, saya juga bermimpi tentangnya dan kini ketika saya harus berpindah ke benua lain, ia tetap hadir dalam mimpi , ia tetap menjadi teman terbaik walau hanya dalam mimpi. Kami seolah-olah dekat, kami masih bercerita bersama. Kini hanya doa yang dapat saya kirim untuknya.

Kehilangan Marina seperti kehilangan satu anggota tubuh, saya seperti kehilangan akal untuk berpikir, saya seperti tidak tahu lagi bagaimana untuk tersenyum, namun mimpi-mimpi indah dan senyumnya terus memotivasi saya untuk terus berkreatif dan melupakan trauma tsunami. Tangannya seakan mengiring saya untuk terus tersenyum dan berjalan menyongsong kehidupan. Meski Tsunami membawa pergi Marina, namun saya bersyukur, Allah pernah memberi saya kesempatan mengenal Marina, walau hanya sesaat.................


Ketika Macut pergi

Macut adalah adik ibu saya. Sejak kecil Macut yang yatim tinggal bersama kami. Ibu saya yang membiayai sekolah Macut. Waktu itu kami masih kecil-kecil, selain dengan orang tua, sama Macut lah kami bermanja. Dari mandi, buat PR, bermain ditemani oleh beliau. Ketika kami mulai dewasa dan Macut sudah selesai sekolah, beliau mulai mencoba hidup mandiri di kampung, ibu tidak melarang keinginan beliau, lagi pula beliau masih sering juga ketempat kami, begitu juga dengan kami, bila telah tiba masa liburan, pasti balik kekampung untuk menjenguk Macut. Saya sangat suka berlibur kekampung. Di kampung saya hidup bak seorang putri, apa yang saya inginkan selalu dibelikan oleh Macut, jika kepasar saya selalu dibelikan berbagai macam mainan, baju dan makanan, saya betah sekali berayun manja dengan Macut. Satu hal yang membuat saya sedih, melihat Macut yang sudah berumur tidak juga menikah, padahal saya ingin sekali melihat beliau menikah dan punya keluarga.

Waktu berjalan seperti jarum jam, cepat tak pernah berhenti, saya yang dulunya masih bermanja dipangkuan Macut, kini sudah membina rumah tangga, meski sudah menikah, kasih sayang saya pada Macut tidak berubah.

Awal 2007

Saya mendapat kabar bahwa Macut sakit parah, akhirnya Macut kami rujuk dari rumah sakit di kampung ke rumah sakit Banda Aceh agar lebih dekat dengan kami. Saat itu kakak yang bekerja di bagian kesehatan yang mengurus rujukan untuk Macut, kakak memilih rumah sakit swasta terbaik yang ada di Banda Aceh waktu itu, kami pun memilih kamar yang bagus untuk Macut, kami berharap agar Macut yang hanya sebatang kara, tanpa ayah, ibu dan suami, tidak merasa kekurangan kasih sayang, kami ingin Macut tahu bahwa kami selalu menyayangi beliau. Kami sekeluarga bergantian menjaga Macut waktu itu, karena mengingat saya dan kakak bekerja. Waktu itu saya sedang terikat kontrak dengan salah satu NGO dan bertugas keliling propinsi Aceh sehingga tidak bisa jaga Macut sepanjang hari. Setelah dirawat di Banda Aceh Macut menyatakan keinginannya untuk kembali ke kampung, beliau ingin dirawat disana, walau kami sudah membujuknya namun beliau ingin sekali tetap balik ke kampung. Mengingat di kampung juga ada ahli keluarga dekat pihak ibu yang akan menjaga, kami akhirnya akur dengan keinginan beliau untuk balik kampung.

Setelah beberapa hari di kampung, saya mendapat kabar bahwa Macut akan dioperasi, menurut salah satu ahli keluarga di kampung, setelah diamputasi, Macut akan dibuat kaki palsu gratis oleh salah satu NGO.

Allhamdulillah, operasi Macut berjalan lancar, kami bahagia mendapat kabar itu. Apalagi setelah operasi, Macut masih bisa tersenyum, namun siapa menduga, rencana Allah, Allah lebih sayang Macut, Macut dipanggil oleh Yang Maha Cinta tanpa sempat mengunakan kaki palsu .

Saat mendapat kabar tersebut, saya sedang berada di kabupaten lain. Penguburan Macut langsung dilakukan tanpa menunggu kepulangan saya. Kakak dan ibu saya bertuah sekali, mereka sempat memandikan beliau untuk terakhir kalinya.

Saya tak menyangka, kalau senyuman, canda Macut saat berada di rumah sakit Banda Aceh merupakan canda dan senyuman yang terakhir untuk saya, saat itu saya dan suami duduk persis di depan kepala Macut, saya belai-belai rambutnya yang semakin tipis, saya candai beliau hingga tersenyum dan melupakan sakit walau sesaat.

Saya tak menduga lambaian tangan beliau saat di ambulance merupakan lambaian tangan perpisahan.

Saat mendapat kabar duka tentang Macut, saya dari Sabang ke Banda Aceh lalu langsung ke Sigli naik motor, kami memandu seperti orang kesetanan agar dapat melihat raut ketenangan Macut yang terakhir kali, tapi yang tersisa hanya tanah basah diatas kuburannya.

Kini Macut telah pergi, tiada lagi belaian atau dogeng pengantar tidur darinya. kehilangan Macut seperti kehilangan satu kaki saya, saya seakan pincang untuk berjalan, saya seakan tertatih-tatih tanpa nasehat dan senyumnya.

Terima kasih Yang Maha Cinta, karena memberi saya kesempatan bersama Macut, walau hanya sesaat. Saya tahu Yang Maha Cinta lebih tulus menyayangi Macut daripada saya.

Tiada lagi senyum Dedi

Dedi adalah adik ipar saya, orangnya super kocak dan ribut, sangat berbeda dengan suami saya yang sangat pendiam, karena sifat Dedi yang gokil inilah buat saya mudah akrab dengan keluarga suami. Sifat periang Dedi bisa merubah suasana rumah mertua yang kaku menjadi riuh. 

Belakangan Dedi sakit berat, keluar masuk rumah sakit seperti absen mingguan, badannya semakin kurus, yang tersisa hanya semangat dan keceriaannya. Kami sudah berusaha mengobatinya baik secara medis maupun secara tradisional, namun sakit Dedi tidak juga pulih. 

Waktu itu  Dedi sempat dirujuk kerumah sakit banda aceh, kondisinya mulai membaik dan dokter mengizikannya kembali kerumah. Beberapa hari dirumah,  sakit Dedi kumat lagi hingga akhirnya kembali dibawa kerumah sakit.  

Saat sedang dirawat di rumah sakit, Dedi minta pulang ke rumah, dokter tidak mengizinkannya pulang, namun Dedi tetap nekat ingin pulang. Seakan ia sudah mengerti, telah tiba masanya ia akan pergi untuk selamanya dan ia ingin menghabiskan nafas terakhir hanya di rumah. Berulang kali saat itu ia katakan pada bunda bahwa ingin cepat pulang, waktu hanya tersisa beberapa menit lagi. Akhirnya bunda pun membawanya pulang, papa saat itu sedang ke Medan untuk membeli obat untuk Dedi, saat itu Dedi juga minta dibelikan pesawat mainan pakai remote. Permintaan yang aneh menurut papa, lagi sakit tapi malah minta pesawat,  namun papa tetap memenuhi keinginannya.  

Dalam perjalanan pulang Dedi tak henti-hentinya berzikir, bunda yang melirik Dedi disampingnya berulangkali mengusap keringat dingin yang keluar di dahinya. di biarkannya Dedi terus berzikir sambil memejamkan mata dengan harapan agar ia bisa tertidur nyenyak dalam perjalanan pulang. Saat sampai dirumah, ketika bunda hendak membangunkan Dedi, bunda mengira Dedi ketiduran, ternyata Dedi telah pergi untuk selamanya. 

Dedi pergi tanpa  menunggu kepulangan kami. Dedi pergi tanpa menunggu papa. Dedi pergi tanpa sempat menerbangkan pesawatnya. Kini yang tersisa hanya kenangan dan kebersamaan dengannya. Pesawat itu masih tertata rapi diatas lemari. Masih utuh dengan bungkusan, karena si pemilik telah pergi tanpa kembali.

Nek Neh pun pergi

Nek Neh bukan nenek kandung saya, beliau adalah macut dari nenek. Nek Neh tinggal bersama sepupu ayah, rumahnya persis di depan rumah kami. Nek Neh sangat suka duduk di depan teras sambil memperhatikan cucu-cucunya yang pulang-pergi dari sekolah atau kerja. Mulut nya pun tidak berhenti dari berzikir. Senyum, sapaan, doa dan lambaian tangannya seakan jadi semangat untuk kami. Saya sangat suka duduk  di teras dengan Nek Neh jika pulang kerja. Menyenangkan sekali duduk dengan Nek Neh. Kalau sedang duduk dengan Nek Neh saya sangat suka minta diceritakan tentang sejarah atau kisah-kisah lama, biasanya permintaa saya tak pernah di tolak Nek Neh. bagi saya Nek Neh seorang wanita yang istimewa, istimewa dalam beribadah juga istimewa dalam menjaga kesehatan. Beliau termasuk wanita yang sangat awet muda dan sehat. Di usia beliau yang hampir lebih dari 100 tahun namun masih mampu berjalan tanpa tongkat, bahkan beliau masih bisa membaca Alquran tanpa kacamata, ingatan beliau juga masih kuat,  beliau bisa membedakan antara saya dan kakak-kakak, walaupun saya dan kakak merantau dan baru pulang saat liburan. Beliau juga masih ingat sejarah-sejarah lama dan teman-teman beliau. Di usia senjanya beliau masih rutin berpuasa senin kamis. Satu hal yang membuat saya merasa nyaman berada dekat beliau adalah karena sifat beliau yang tulus, mulutnya penuh dengan ucapan yang baik dan doa indah. Bagi saya ucapan seseorang itu merupakan doa dan ucapan yang baik merupakan doa yang baik. Ucapan-ucapan nek neh selalu mengandug doa yang indah, rasanya rasa lelah saya seharian lenyap, ketika mendengar Nek Neh berkata '' Beumeutuah, beupanyang umu, beusehat, beumalem , beukaya  cuco lon ( Semoga bertuah, panjang umur, sehat, Alim, kaya cucu saya). Aamiin.

Saat saya di Malaysia, saya ditelpon oleh kakak memberitahu bahwa Nek Neh telah meninggal, saya begitu sangat sedih kehilangan Nek Neh, kini tak ada lagi orang yang menengur dan melambaikan tangan saat saya pergi dan pulang kerja. Teras itu telah sepi, Nek Neh wanita bermulut doa itu telah pergi untuk selamanya. Saya seperti kehilangan tangan, saya kehilangan lambaian-lambaian penyemangat kala bekerja.

Ternyata hidup itu tak abadi, semua akhirnya akan kembali,  hanya amalan baik yang akan kita bawa dan hanya kenangan manis yang tersisa untuk  orang terdekat kita






(* Catatan dan renungan









23 komentar:

  1. Hiks, ceritanya sedih semua. Memang kehilangan orang-orang yang kita cintai itu seperti ada ruang kosong di hati kita. Saya mengalami ketika kehilangan ibu, bapak dan kedua mertua saya.
    Subhanallah, kalau ketemu orang seperti Nek Neh itu pasti kita senang sekali. Sungguh pribadi yang patut dijadikan contoh. Kata-katanya selalu mengandung doa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ibu, bapak dan kedua mertua mbak titi mendapat tempat terbaik disisi Allah

      Hapus
  2. semoga semua yg telah berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisiNYa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih mbak untuk doanya

      Hapus
  3. Terus terang, saya ngga berani baca... takut sediiih... tapi saya asli jatuh cinta sama fotonya <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak sudah mampir kemari

      Hapus
  4. Aku juga kehilangan banyak sahabat ketika Tsunami kak...sedih rasanya karena sama sekali tak menduga....

    Juga abisyik yang baru beberapa bulan ini meninggal tanpa sempat bertemu karena jarak. Yah semua akhirnya akan kembali. Begitu juga kita hanya kita belum tahu waktunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga semua yg telah berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT

      Hapus
  5. rasa sedih dan kehilangan pasti ada saat kehilangan sahabat, keluarga dekat ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat kehilangan mbak ketika mereka pergi, makasih ya mbak udah mampir lagi

      Hapus
  6. Semoga mereka semua mendapat tempat yg terbaik disisi-NYA, Allah mengampuni dosa-dosanya dan Allah menerima amal perbuatannya....Amiin...Semangat ya mbak...Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya mbak untuk doanya. Salam kenal juga

      Hapus
  7. Turut berdukacita atas kepergian orang-orang terkasih, Mak. Saya baru mengalaminya. Saya kehilangan sosok wali kelas Faruq. Beliau menyerah pada kanker tulang. Kami sudah seperti sahabat. Saya selalu berdiskusi ttg Faruq kepadanya. Umurnya 10 tahun lebih muda daripada saya, tapi kalau ngobrol, kami selalu nyambung.
    Semoga Allah melapangkan kubur mereka semua. Dan kita dipertemukan lagi di jannah-Nya. *tears* *peluk Mak Lisa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mak Haya untuk doanya, semoga mereka semua mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT
      (*meluk mak Haya erat-erat

      Hapus
  8. Wah... benar-benar terharu kak...
    Semoga mereka semua ditempatkan di Surga Allah nantinya aamiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. makasih dek untuk doanya

      Hapus
  9. semoga mereka yg lebih dulu meninggalkan kita mendapat tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih mbak doanya

      Hapus
  10. semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan amin

    BalasHapus
  11. semua memang akankembali kepada nya kelak...

    BalasHapus
  12. terimakasih info nya sangat bermanfaat

    BalasHapus


Jangan lupa masukannya untuk perbaikan tulisan di masa yang akan datang.

oya semua foto-foto di sini punya saya pribadi, bagi sahabat yang ingin share foto-foto atau tulisan dalam blog ini, boleh saja tapi jangan lupa bagi tahu saya dulu sekalian nulis source.

Terima kasih karena telah mampir ( * _* )