Rabu, 30 Januari 2013

Cerita Hikmah : Cinta Seorang Ayah

                                                                                            
                                                                                                Oleh : Lisa Tjut Ali









Seorang gadis kecil yang sedang bermain ayunan berlari dan berayun manja ke arah ayahnya yang sedari tadi memanggilnya untuk pulang, tangan mungilnya melingkari leher sang ayah, sambil bersandar di pundak kekar sang ayah gadis kecil itu berbisik manja dan menciumi ayahnya berulang kali. Sepertinya ia sedang mengeluarkan jurus ampuh untuk merayu sang ayah agar membelikannya boneka. Gadis kecil dan ayahnya itu, mengingatkan saya pada sosok sang ayah yang selalu menyayangi dan memanjakan saya dari sejak kecil hingga sekarang. Saya masih ingat waktu saya masih kecil dulu, saya sangat takut dengan gelap. Saya tidak dapat tidur tanpa cahaya lampu atau lilin, jika saya tidur lalu tiba-tiba mati lampu, saya spontan akan menangis. Ayah yang selalu dengan setia akan datang membawakan lilin untuk menerangi kamar yang gelap. Dulu saat saya kecil, ayah sering membelikan saya hadiah seperti sepeda, kalung, dan mainan dari hasil tetesan keringatnya, kini saat saya telah dewasa saya pun ingin sekali memberikannya sebuah hadiah untuk ayah sambil berucap “ Ini hadiah untuk ayah dari hasil keringat saya sendiri”

Ayah saya bukanlah seorang Prof ataupun gubernur, ayah hanya seorang pegawai negeri biasa tamatan SMA. Kerjanya setiap hari hanya sebagai sopir resmi Ibu gubernur Aceh. Bertahun-tahun beliau berkerja mengantar jemput istri orang nomor satu di Aceh, entah berapa banyak para pejabat, anak pejabat bahkan istri pejabat yang telah ayah antar jemput. Meski ayah hanya seorang sopir, namun ayah selalu punya cita-cita tinggi ingin menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Ayah ingin kami menjadi orang sukses, terpandang di masyarakat, berhasil, seperti orang-orang yang pernah diantar jemputnya.

Ayah bukanlah seorang yang mudah mengungkap kata-kata sayang, tapi saya tahu ayah sangat cinta dengan kami sekeluarga, saya dapat melihat kasih sayang itu dari setiap cucuran keringat yang menetes saat beliau lelah bekerja. Saya masih ingat saat saya sekolah dulu, waktu itu ayah telah berjanji akan memberi saya uang untuk sekolah, tapi karena ayah terlalu terburu-buru bekerja, ayah terlupa meninggalkan uang pada ibu, akhirnya saya menyusul ayah ke tempat kerja, di sana saya lihat ayah sedang membersihkan mobil-mobil, baju putihnya basah bercampur air dan keringat. Saya mengintipnya dari balik pagar kokoh, berulang kali ayah mengusap mukanya yang berkeringat. Saat itu saya yang menatapnya dari jauh ingin rasanya berlari kencang ke arahnya untuk memeluk dan menciumi pipinya berulang kali sambil mengatakan “ Saya sayang ayah, suatu saat nanti saya ingin membahagiakan ayah”. Namun saya juga sama seperti ayah, tidak mudah meluapkan isi hati, tapi saya sayang ayah. Saat itu saya mengurungkan niat meminta uang pada ayah. Saya terus ke sekolah sambil mengusap air mata dan berjanji pada diri ingin belajar setingginya agar dapat buat ayah bangga. Kini Saya telah besar. Saya yang dulu merenggek untuk sebuah boneka sedang berlari mengejar cita-cita. Namun yang paling berarti dalam hidup saya hanya doa ayah dan ibu. 

Ayah,  saya juga masih ingat, saat kita sekeluarga sedang duduk di teras, saat itu ayah menanyakkan apa yang menjadi cita-cita kami, saya yang ketika itu masih kecil, belum mengerti apa itu cita-cita, dengan polos saya katakan pada ayah bahwa saya suka mobil BMW. Ayah terkejut mendengar jawaban saya, kakak-kakak saya pun tertawa mendengarnya, mereka pun mengoda saya ” Kalau suka BMW naik saja yang terpakir di halaman Mesjid Raya Baiturrahman alias Becak MeWah”. Memang waktu itu di halaman mesjid raya banyak terpakir becak-becak, namun yang saya maksudkan bukanlah becak, saya memang sangat suka mobil BMW, saya begitu terkesan ketika melihat salah satu mobil pejabat yang terpakir depan pendopo gubernur. Mendengar cita-cita saya tersebut, ayah hanya tersenyum sambil berkata bahwa suatu saat nanti saya pasti dapat melihat mobil BMW lagi, bukan hanya satu BMW yang akan saya lihat, tapi saya akan selalu melihat puluhan BMW setiap hari. Saya tahu perkataan ayah saat itu sekedar menghibur hati saya, mana lah mungkin saya bisa melihat puluhan mobil BMW, karena saat itu BMW adalah mobil yang sangat mewah, di Aceh saja paling hanya satu orang yang punya BMW. Kini siapa sangka, ucapan seorang ayah yang tulus, telah menjadi doa untuk putri kecilnya saat itu, seperti mimpi saya bisa menetap di Jerman, negara gudangnya BMW. Setiap hari jika saya berdiri di depan jendela kamar, akan terlihat puluhan mobil BMW terparkir, memang mobil itu bukan milik saya,  namun setidaknya ucapan seorang ayah saat itu bukan sekedar hiburan, tapi benar-benar sebuah doa, kini ingin sekali saya menelpon ayah untuk mengatakan bahwa setiap hari saya dapat melihat BMW milik jiran-jiran, saya yakin ayah pasti akan menjawab ”Suatu ketika nanti kamu pasti mampu membelinya Nak dengan hasil keringatmu sendiri”. Terima kasih ayah untuk setiap doa mu. Inilah cerita saya tentang ayah, bukan saja ibu yang punya cinta untuk anak-anaknya. Seorang ayah juga mempunyai cinta yang besar pada anak-anaknya, hanya saja seorang ayah tidak mudah mengungkapkan perasaan. 




(* Catatan dan renungan









4 komentar:

  1. termasuk saat ingin difoto sendirian seharian penuh (berkerut kening)...akkakakk
    jangan lupa katakan itu ke AYAH saat pulang nanti woke ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Genau, jahat ya main buka rahasia, tapi itu dengan mamak lah bukan dengan ayah

      Hapus
  2. saya baru kehilangan ayah mbak, makasih untuk post ini, saya juga berjanji untuk belajar setinggi-tingginya untuk beliau :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sabar ya melissa, capai lah cita-cita setinggi-tingginya dan wujudkan impian dan nasehat ayah, sehingga beliau disana dapat tersenyum bangga melihat putri kesayangannya masih menjadi sosok putri yang menjaga amanahnya.

      Hapus


Jangan lupa masukannya untuk perbaikan tulisan di masa yang akan datang.

oya semua foto-foto di sini punya saya pribadi, bagi sahabat yang ingin share foto-foto atau tulisan dalam blog ini, boleh saja tapi jangan lupa bagi tahu saya dulu sekalian nulis source.

Terima kasih karena telah mampir ( * _* )